NII juga Manusia

4 Jul 2011

Suatu hari Pak Bambang, sesepuh di tempat saya tinggal datang ke kos. Beliau mensosialisasikan ketertiban penghuni kos. Pak Bambang bilang NII rak usah tinggal ning lingkungan kene, marai ganggu (bahasa Jawa). NII nggak usah tinggal di lingkungan sini, ganggu

Seketika itu saya terkejut, bukan karena saya mantan atau bahkan anggota NII (Negara Islam Indonesia). Saya tergelitik apa salah NII hingga Pak Bambang bicara seperti itu. Apakah Pak Bambang sudah pernah disakiti NII atau memang tahu seluk beluk NII sehingga tahu bahayanya. Atau hanya karena terdoktrin media bahwa NII adalah salah, apapun alasannya yang penting NII salah.

Apakah Pak Bambang tidak keberatan jika warganya ada yang menjadi pejabat dan kebetulan koruptor? Saya belum tanya Pak Bambang jadi belum dapat jawaban. Lingkungan tempat saya tinggal ada sebagian kelompok pemabuk, kadang mereka mabuk sambil joget bareng. Tak tanggung-tanggung mereka pesta miras di ujung gang, sehingga membuat warga yang ingin lewat jadi enggan.

Jika NII meresahkan, kenapa Pak Bambang tak bersuara dengan aksi warganya. Menurut saya itu mengganggu dan bukan contoh yang baik untuk warga yang lain, terlebih mereka (yang mabuk) adalah orang tua yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Hidup berdampingan dengan siapa saja, jika tak keberatan berdampingan dengan koruptor, pemabuk, pencuri dan penjambret. Seyogyanya bisa menerima apa yang disebut NII.

Bukankah pernah melihat stiker atau poster dengan tulisan Jauhi HIV/AIDS bukan orangnya, apakah berbeda dengan jauhi NII bukan berarti jauhi orangnya. Toh HIV/AIDS lebih berbahaya ketimbang NII. What? Anda pernah mendengar mantan NII tapi tidak pernah mendengar kata mantan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), karena mantan ODHA berarti kematian. Tak ada yang bisa selamat dari bahaya HIV/AIDS.

Ini pendapat saya, bagaimana pendapatmu?


TAGS NII HIV/AIDS


-

Author

Follow Me