Demi Sebuah Tekad, Melangkahlah!

7 Nov 2011

travelPerencanaan yang matang sebelum bepergian adalah penting. Tapi tidak selamanya penting bagi sebagian orang, termasuk saya. Saya bukanlah orang yang suka merencanakan secara matang melakukan sebuah bepergian atau datang ke sebuah acara. Saya suka dengan hal yang mendadak, ketika saya siap saya akan berangkat ketika ragu untuk melakukan, saya tidak pernah menjanjikan.

Hal-hal yang direncanakan secara matang kadang gagal ditengah jalan, malah yang dilakukan mendadak dan serntak malah berhasil. Ini bukan jaminan selalu berhasil, karena tidak selalu demikian. Ada plus-minusnya. Melanjutkan rencana, menyusun kembali atau malah berhenti. Kembali ke niatan awal.

Beberapa hari lalu, saya diajak teman sebut saja Asmari untuk menghadiri sebuah acara di Bogor pada 4 November Jauh-jauh hari kami berdebat antara bisa ikut atau tidak, akhirnya sepakat dari Semarang berangkat menggunakan Tawang Jaya tanggal 3 November. Padahal sehari sebelumnya dipastikan tidak berangkat.

Kamis (03/11), menjelang magrib saya ke stasiun Poncol untuk berburu tiket Tawang Jaya keberangkatan pukul tujuh malam nanti. Di loket sudah tertempel tulisan Tiket Tawang Jaya keberangkatan tanggal 3,4, dan 6 telah habis. Loket menerima pemesanan tanggal 5, 7 dan seterusnya. Mendapat informasi dari petugas bahwa masih ada tiket untuk hari ini, lalu ia menyarankan agar saya mencoba antri. Siapa tahu kebagian, imbuhnya.

Saya ikut berdiri di antrian yang memanjang, kira-kira urutan diatas dua puluh. Semoga dapat, jika habis masih ada alternatif ikut Brantas atau Mataremaja. Saya kembali menghubungi Asmari untuk memastikan kami ikut keberangkatan jam tujuh.
Loket dibuka pukul enam lebih sedikit, antrian bergerak perlahan. Hingga akhirnya tiba giliran saya.
Tawang Jaya, malam ini masih?
berapa?
tiga jawab saya singkat
105, pas tiga petugas menyobek tiket dan saya sodorkan sejumlah uang.

Pengumuman tiket habis bukan berarti tiket benar-benar habis. Habis adalah untuk pemesanan, tapi untuk keberangkatan di hari H tetap ada namun denagn jumlah terbatas. Seperti barusan, petugas menyobekkan tiga tiket kepada saya dan menyisakan satu lembar. Rezeki orang yang mengantri di belakang saya, mungkin juga cobaan jika ternyata dia ingin membeli tiket lebih dari satu. Saya tak tahu, karena saya langsung pergi begitu mendapatkan tiket.

Jam di tangan menunjukkan pukul 18.30, masih ada waktu 30 menit untuk pulang mengambil barang dan kembali ke stasiun lagi. Bahkan kurang 30 menit agar tidak terlambat, tertinggal kereta. Ke kos mengambil tas kecil yang biasa saya bawa ketika bepergian kemudian minta tolong teman saya Badru untuk mengantar. Ngebut menembus kemacetan Pandanaran, Tugu Muda dan Imam Bonjol. Asmari dan Thia langsung menyusul ke Stasiun.

Begitu sampai stasiun batang hidung Asmari dan jenong si Thia belum terlihat, padahal sudah diinformasikan tak lama lagi kereta akan berangkat. Saya telpon mereka, ternyata mereka terjebak macet. Saya katakan kepada petugas penjaga peron bahwa saya masih menunggu teman, masih dalam perjalanan dan tak lama lagi sampai Stasiun.

Menghubungi Asmari agar lebih cepat karena kereta akan berangkat. Bel informasi terus menggema bersahutan dengan mesin lokomotif yang menderu, sayapun menerobos masuk mencoba kompromi dengan petugas agar menunggu beberapa menit. Seorang petugas menghampiri saya, pandangan penumpang tertuju kepada saya.
Mau berangkat dhek?
iya pak, masih nunggu teman. Lagi dalam perjalanan kesini
jangan sampe kereta nunggu penumpang, kamu mau berangkat apa nggak? tanya petugas dengan tegas.
Suara mesin lokomotif yang siap menarik gerbong begitu mendramatisir, mustahil saya meminta menunggu beberapa menit lagi.
saya tinggal saja pak
ayo berangkat teriak petugas sambil berjalan menaiki gerbong.
Berjalan menjauhi kereta yang mulai meninggalkan stasiun. Kereta yang malam ini gagal mengangkut kami. Saya angkat telepon, kereta berangkat, kita ikut kereta selanjutnya aja. gak apa-apa bro, suara di seberang menenangkan. Klik.

Meski gagal menumpang Tawang Jaya, akhirnya kami menggunakan Mataremaja (02:15) menuju Jakarta sebagai blonek. Blonek atau blogger nekat adalah sebutan untuk blogger yang nekat bepergian dengan modal pas-pasan, karena nekat disebutlah blonek. Tiket yang hangus tidaklah sia-sia, karena tidak menyurutkan niat melanjutkan perjalanan meski modal pas-pasan, harus kembali membeli tiket dan menunggu tujuh jam.

Untuk mereka yang ragu melakukan perjalanan karena terbatas biaya, 75% modal berasal dari niat dan kemauan. Percayalah, pasti ada jalan untuk memenuhi kekurangannya. Pertolongan bisa datang dari teman, kenalan serta kondisi sulit.

Untuk mereka yang ragu melakukan perjalanan, niat dan kemauanmu untuk bepergian adalah modal utama. Bukan biaya atau uang, uang tanpa niatan bepergian belum tentu dapat mewujudkan. So, tentukan tujuan, rencanakan, jentikkan jari dan mulailah melangkah. :)

salam tas ransel
@elafiq


TAGS blonek


-

Author

Follow Me