Terpaksa, Antara Kecewa dan Terima Kasih

14 Nov 2011

Dalam kehidupan ada tiga jenis orang baik, mereka yang salah dan ingin memperbaiki, mereka yang benar-benar baik dan mereka yang berharap terlihat demikian. el-

Ini adalah perjalanan saya menuju ngayogjazz 2011, sabtu 12 November lalu. berangkat dari Semarang sekitar pukul 09.45, lalu lintas mulai padat. Sebenarnya saya tidak terburu-buru harus sampai Jogja hanya singgah dulu di Temanggung, karena harus membagi waktu akhirnya saya ngebut.

Di daerah Bedono Ambarawa, terdapat banyak kelokan dan tanjakan. Menyelip di antara kendaraan besar seperti truk dan bus adalah hal biasa, hingga saya-pun tak sadar melewati garis marka.

Syemm.. tiba-tiba terlontar kata ini saat melihat pos Polisi di depan. Saya berharap, petugas tidak melihat pelanggaran saya. Saya pun tak benar-benar yakin apakah telah melanggar atau tidak, sekali lagi saya tak sadar melewati garis marka. Karena itulah saya berharap polisi-pun tak menyadari, simpelnya saya malas berurusan dengan Polisi.

Dari kaca spion saya melihat seorang pria paruh baya mengendarai sepeda motor tanpa helm, membawa tumpukan rumput untuk ternak. Seketika itu saya berpikir, jika saya disalahkan maka saya juga minta agar petugas juga menindak pengendara tanpa helm itu.

Tak terlihat petugas mengejar, saya pikir aman-aman saja. Barulah sekitar ratusan meter dari kaca spion terlihat petugas mengejar, dengan rompi hijaunya yang khas. Rompi hijau yang tiba-tiba membuat saya pening setiap kali melihatnya.

Petugas tersebut tidak langsung memepet. Bertanya-tanya dalam hati apakah petugas ini akan menilang atau tidak. Bukan ge-er atau kepedean berharap ditilang karena tidak terlihat ingin menghentikan, beriringan di samping seperti biasa. Beberapa saat kemudian, petugas nikung di depan.

Sayapun menepikan kendaraan. Petugas menyapa dan meminta saya menunjukan surat kendaraan. Prosedur yang sudah ia hapal dan mungkin ratusan bahkan ribuan kali diulang.
selamat siang, selamat belanja #eh kalo ini sapaan khas begitu masuk Indomar*t.
maaf menggannggu perjalanan Anda, bisa menunjukkan surat-suratnya?
Kata petugas sambil hormat.
saya gak butuh dihormati pak, saya cuma pengen polisi bertindak adil. Itu saja ini dalam hati saja, jika saya omongkan pasti dikira ngajak ribut.
Petugas sedikit kaget ketika saya membuka kaca helm, bukan karena saya mirip kiwil. Mungkin kaget dengan kaca mata hitam saya, entah alasannya apa saya-pun tak tahu. Saya agak heran, kenapa polisi menjadi lebih sopan kepada saya, bertanya kepada saya dengan bahasa jawa krama. Ditengah keheranan saya keluarkan surat-surat dari dompet. Bukan SIM yang saya tunjukan malah KTP, sumpah ini bukan karena saya terpesona dengan petugas. Jika ditilang Briptu Eka saya bisa tenang mungkin juga pasrah, tapi ditilang oleh petugas laki-laki dan saya terpesona adalah tanda-tanda kiamat semakin dekat.

Oleh petugas saya dibilang telah melanggar garis marka dan diminta menuju pos. Duit! satu kata itu yang terlintas begitu saya diminta menuju pos. ikuti prosedur dulu, saya menenangkan.

Didalam pos ternyata tak hanya saya, ada seorang pria yang juga ditilang. Dari percakapan polisi saya tahu pelanggaran orang tersebut, juga melanggar marka sama seperti saya.
Kami menindak tegas pengguna kendaraan yang melanggar marka, agar tidak membuat jalur sendiri (melanggar garis marka) sehingga mengurangi angka kecelakaan.
Oleh petugas yang menagkap, saya diminta duduk bertemu seorang petugas lain. Duduk di kursi panjang menghadap jendela, sehingga saya dapat melihat jelas kendaraan yang lalu lalang.
mas tahu apa kesalahannya tadi? kata petugas berkumis.
kata petugasnya tadi saya melanggar marka, pak, saya menyebut kata petugas karena saya tidak yakin apakah benar-benar melanggar marka.
Kemudian mendapat pengarahan singkat tentang marka jalan, bahwa garis tanpa putus tidak boleh dilewati atau dilanggar. Saya tahu itu pak.
Dengan tampang dan nada polos, saya menanyakan pasal pelanggran saya. Dibuku tilang bagian belakang ternyata tertera semua jenis pelanggaran lalu lintas beserta dendanya. Dengan iseng, saya juga tanyakan pelanggaran tidak menggunakan helm standar. Untuk pelanggran marka denda maksimal Rp.500ribu sedangkan helm standar Rp.250ribu.
Karena saya ditilang sedangkan pria tanpa helm dibelakng tadi dibiarkan, saya-pun bertanya. Bukan atas dasar iri tapi ingin tahu alasan dan jawaban petugas.
dibelakang saya tadi nggak pake helm dibiarin pak
sampean aja belum bener kok ngurusi orang

Bisa saja saya menuntut agar petugas juga menindak pria tersebut. Jika diminta untuk menunjukkan saya siap, saya tahu kemana arah pria tersebut pergi. Pria itu masuk gang sebuah perkampungan, ia adalah warga sekitar pos. Pertanyaannya, apakah kedisiplinan lalu lintas hanya berlaku bagi pengendara jarak jauh, sedangkan warga disekitar tidak perlu? Memang agak aneh ketika harus memakai helm jika pergi ke sawah, tapi jalan yang saya lalui kan juga dilalui oleh mereka. JAWAB PAK! JAWAB! *TIBA-TIBA CAPSOLOCK* Sayapun mendapat jawaban yang mengagetkan ketika menayakan kenapa light on hanya berlaku untuk motor, sedangkan mobil tidak.

Akhirnya petugas memberikan dua pilihan, membayar tilang atau mengikuti sidang tilang. Saya sebetulnya lebih memilih mengikuti sidang tilang daripada memberikan uang begitu saja kepada petugas. Karena waktu sidang masih lama dan motor yang saya pakai adalah pinjaman, sayapun terpaksa membayar tilang. Jika waktu sidang hanya beberapa hari kedepan saya lebih memilih ikut sidang.

Saya pernah mengikuti sidang tilang dan tahu besaran uang dendanya. Saya tawarkan uang yang jumlahnya sama dengan uang sidang, tapi petugas tersebut menolak dengan alasan uang tersebut jauh dari jumlah minimum denda (Rp.100ribu).

Petugas tersebut mengatakan selalu membantu pelanggar lalu-lintas yang berstatus Mahasiswa, Pelajar dan Guru dengan meringankan denda tilang. Saya tahu pak, mungkin ini bentuk penghargaan Anda kepada mereka.

Akhirnya saya menyebutkan sejumlah uang sedikit lebih banyak dari tawaran pertama, jika petugas tidak mau saya memilih mengikuti sidang. Saya tetep keukeuh dengan penawaran saya, petugas tersebut akhirnya mau. Sayapun dibuatkan oret-oretan dan diminta untuk menanda tangani. Terima kasih pak, meskipun saya kecewa dengan jawaban yang Anda berikan, saya tetap mengucapkan terima kasih.

Saya ingin tahu nama petugas yang bersangkutan, tapi nama diseragam terhalang oleh rompi hijaunya. Saya mencoba bertanya siapa namanya, tapi tak dijawab dan sibuk membuat oret-oretan tilang. Suara saya kurang jelas atau pura-pura tidak mendengar, entahlah. Mencoba menerobos melihat nama dibalik rompi sangat susah, samar-samar terbaca kata mo atau no. Entah Sumarno, Sumarmo, Sutomo atau Wahyono, yang pasti bukan Monika.


TAGS


-

Author

Follow Me