Cerita dari Ngayogjazz 2011

22 Nov 2011

trie-utami-idang-rasjidi

Hujan deras yang mengguyur kota Magelang Sabtu (12/11) sore tak menyurutkan niat untuk meneruskan perjalanan dari Semarang menuju Jogjakarta. Ada cerita dibalik kisah ditilang polisi, celana, kaos dan jaket basah kuyup. Semua demi menyaksikan Ngayogjazz 2011.

Tak ingin melewatkan langit yang terlihat cantik setelah hujan, pun berhasil mengabadikan dengan sekali jepret. Langit tampak cerah begitu memasuki provinsi DIY, berharap kondisi ini bertahan hingga malam puncak Ngayogjazz nanti.

Ngayogjazz 2011 berpusat di Pasar Kotagede, terdiri dari enam panggung yang tersebar di sekitaran pasar. Karena padatnya mengunjung yang datang, jadi saya harus berjalan kaki sekitar 250meter dari tempat parkir menuju salah satu venue (Panggung Gaog). Luar biasa bukan? Sejak sore hingga malam, pecinta jazz yang datang dari penjuru daerah disuguhi penampilan musik atraktif yang tersebar di enam panggung. Yakni panggung Spleker, Horn, Sirene, Corong, Swara Warga dan Gaog.

Musisi pengisi berasal dari Yogyakarta seperti komunitas jazz Jogjakarta, Kutha Gede Jazz Community, Kertas Lipat, Keroncong Kharisma serta komunitas jazz luar kota, seperti dari Surabaya, Solo Jazz Society (Solo), Gubug Jazz Pekanbaru (Pekanbaru), Jazz Ngisor Ringin (Semarang), Balikpapan Jazz Lovers (Balikpapan), dan Pekalongan Jazz Society (Pekalongan).

Selain dari komunitas, musisi jazz kenamaan seperti Idang Rasjidi, Trie Utami, Rieka Roeslan, Nano Tirta, Ligro Trio, Tesla Manaf dan Sierra Soetedjo menambah semaraknya Ngayogjazz 2011 kali ini.

Menjelang pukul 10 malam, para penonton berkosentrasi di Panggung Geog yang malam ini dijadikan panggung utama penampilan Idang Rasjidi, Trie Utami dan Rieka Roeslan. Penonton pun membludak di depan Pasar Legi. Karena banyaknya penonton, penonton bersepakat nonton sambil duduk agar tak menghalangi yang dibelakang. Entah siapa yang mengomando, tapi ide ini perlu ditiru khususnya pada event yang dikemas festival dengan penonton yang membludak. Sehingga terlihat teratur dan tertib.

penonton-ngayogjazz

Pasukan MC yang terdiri atas Lusy Laksita, Bambang Gundul, Gepeng Kesana Kesini, Alit Jabang Bayi, Gundhi Kondo dan Hendro Pleret berhasil mengocok perut penonton dengan banyolan njarkata-nya, yaitu berbicara bahasa Jakarta disisipi logat Jawa.rieka-roeslan

Rieka Roeslan mengajukan diri tampil lebih dulu, dirinya menilai Idang Rasjidi dkk lebih cocok menjadi penutup. Penonton langsung digoyang dengan lagu beat Bercermin, disusul Terima Kasih Tuhan, Manusia, Hanya Karena Cinta, Bagiamana Bisa dan Dahulu. Semua lagu yang ia nyanyikan adalah karyanya sendiri, beberapa diantaranya saat masih eksis bersama The Groove. Tentunya selain berhasil memanjakan pecinta jazz juga sebagai obat rindu penggemar The Groove.

Selanjutnya Idang Rasjidi dan Trie Utami tampil diiringi Djaduk Ferianto dkk dari komunitas jazz Jogjakarta. Nomer bebas yang dibawakan Djaduk, Idang dan Iie benar-benar membuat terpukau penonton. Tabuhan perkusi Djaduk Ferianto dengan apik bersahutan denan piano Idang Rasjidi, Trie Utamie pun tak mau kalah memainkan nada-nada panjang yang berhasil membuat applause penonton. Sebuah single milik almarhum Utha Likumahuwa pun dibawakan, sebagai bentuk apresiasi kepada musisi yang ikut mewarnai musik jazz tanah air.

Ngayogjazz 2011 ditutup dengan lagu bertema nasionalis, berharap semoga bangsa Indonesia tetap bersatu. Meski lelah penonton tampak puas dengan penampilan para musisi. Sampai jumpa di Ngayogjazz 2012 :)


TAGS ngayogjazz


-

Author

Follow Me