Kita, Aku dan Kamu tanpa Dia

25 Nov 2011

Rintik hujan dan pekat malam adalah pertemuan kita, aku dan kamu. Begitu hangat ditengah beku yang terjadi. Akhirnya kita bercengkrama entah dari mana mulanya. Sempat kau terisak, bukan bermaksud tak sopan kucoba berikan pelukan hangat untukmu. Namun kuurungkan, kau telah memiliki kekasih yang lebih berhak dari sekedar memelukmu. Kugenggam pangkuanmu, tak lebih.

Ceria tawa dan senyum yang lama tak kulihat, membuat hatiku berbunga. Lebih indah dari bunga bermekaran di taman. Lebih bahagia dari mereka yang puas menikmati buah durian satu keranjang penuh. Tiada tara nikmatnya. Bahkan jika kebahagian ini harus ditukar dengan buah durian itu aku akan menolaknya. Karena aku lebih memilih bengkuang daripada durian.

Ah, aku jadi ngaco. Pertemuan yang singkat membuat salah satu syaraf otakku tak bekerja. Entah syaraf bagian mana yang putus, aku tak peduli. Saat ini yang terpenting adalah ini malam kita, aku dan kamu. Lupakan sejenak kekasihmu. Biarkan aku memeluk dan memilikimu saat ini saja.

Biarlah kita bermesra dalam remang dengan kilatan gemuruh langit yang lewat. Malam ini adalah malam kita, milikku juga milikmu. Tak satupun yang berhak mengganggu, abaikan jam malam yang mengusik. Aku masih ingin berlama-lama denganmu. Hanya saat ini aku memilikimu, ketika datang pagi kau kembali kepada kekasihmu, dan aku harus kembali bersandiwara. Melakoni peranku sebagai pecundang yang memandang bengis ke arahmu.

Dan ketika malam tiba, kita kembali bermesra seperti malam-malam sebelumnya. Memainkan sebuah peran yang entah siapa sutradaranya. Tapi kita begitu menikmati peran itu. Bermesra ketika malam tiba dan menjadi musuh keesokan harinya.

Mungkin kau lelah dengan lakon seperti ini, tapi begitulah skenario saat ini. Nikmati saja, kita lihat bagaimana ending dari cerita ini. Jika cerita tak kunjung usai dan kau pun terlanjur jenuh, mari kita membuat skenario sendiri. Berskenario kita aku dan kamu- bermesra sepanjang hari, siang dan malam. Atau memilih menjadi musuh sepanjang hari pula. Sudahlah, tak usah kau pikirkan skenario itu. Mari kita jalani sama-sama.

Kabut putih terlihat disisa-sisa rintik hujan, hari mulai berganti. Pulang dan istirahatlah. Kita aku dan kamu- akan menjalani peran lain. Kau bermesra dengan kekasihmu, dan aku memandang bengis ke arahmu. Kembali berperan pecundang. Dan kita kembali mesra saat malam tiba.

Pulang dan istirahatlah, aku pun ingin tidur dan bermimpi memilikimu selamanya. Hanya ada kita tanpa dia. Kita, hanya aku dan kamu tanpa kekasihmu.


TAGS


-

Author

Follow Me