Aku Bukan Siapa-Siapa

24 Apr 2012

Ini adalah tulisan pertama Group 16 dari Cerita Berantai bernama #3penguasa yang diadakan komunitas blogger Bogor (Blogor). Tulisan kedua akan ditulis @ontohod, dan ditutup oleh @1bichara

bermula….

Naya namanya. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Bagai Romeo dan Juliet atau Paijo dan Poniyem kemanapun aku pergi selalu ada Naya bergelanyut manja disisiku. Meski begitu dekat, kami aku dan Naya- tak pernah sepakat untuk pacaran. Menurutku kedekatan ini lebih agung daripada status pacaran, Naya pun tak pernah memepermasalahkan. Semua berjalan apa adanya, mengalir bagai air dan berhembus bagai angin.

Itu kedekatan yang aku rasakan lima bulan silam, sebelum Naya memutuskan untuk pindah ke ibukota kota bekerja. Jarangnya intensitas komunikasi membuat hubungan kami renggang. Akupun memilih tenggelam dalam rutinitas kerja.

Suatu ketika aku berkenalan dengan Lina, seseorang pegawai beda kantor namun satu gedung denganku. Seringnya pertemuan yang tak disengaja membuat aku dekat dengan Lina. Tak jarang sepulang kerja berlanjut makan bahkan nonton bareng. Akupun jatuh hati kepada Lina. Witing tresno jalaran soko kuliner, mungkin ini pepatah nyeleneh yang pas. Hahaha

Kedekatanku dengan Lina ini yang membuatku sedikit melupakan Naya, semua berjalan apa adanya. Kami aku dan Naya- punya jalan masing-masing, bernafas dengan cara masing-masing, dengan hidung masing-masing.

Hingga akhrinya aku dikagetkan dengan pesan singkat Naya tadi pagi. Bagaimana tak kaget? Bukan kabar baik yang aku dengar, malahan caci maki kasar yang aku terima. Pesan singkat yang begitu jelas, dari kalimatnya aku tahu dia sedang cemburu bahwa aku dekat dengan seorang perempuan lain, mungkin maksudnya Lina. Yang aku pertanyaakan bukan darimana Naya tahu aku sedang dekat dengan Lina, tapi untuk apa dia harus marah-marah? Cemburu? Ya, mungkin itu satu-satunya alasan yang membuat Naya murka.

Belum sempat kubalas SMS Naya, handphone-ku berdering. Rupanya panggilan dari Naya, kuangkat tanpa berpikir panjang. Belum sempat kutanyakan maksud amarah Naya, caci maki sudah meluncur bertubi-tubi menyerang. Bukan lagi kalimat mesra yang biasa kudengar dari bibir mungilnya. Naya memaki sejadi-jadinya, aku tak punya kesempatan untuk menyela. Kalimatku menggantung setelah pembicaraan berakhir, klik.

Handphone kembali berdering, ada pesan singkat masuk dari Naya. Dia melakukan flight hari ini juga, terbang dari Jakarta ke Semarang hanya untuk menemuiku. Belum cukupkah dia marah lewat telpon dan SMS hingga harus bertemu langsung denganku?

Kududuk di balkon apartemen, memandang langit semarang yang pagi ini terasa lebih cerah dari hari biasanya. Tapi itu tak bisa menghibur diriku. Aku masih membisu dengan kejadian barusan, kehadiran Naya dengan cara yang tak kubayangkan. Tak kubayangkan dia bisa memaki, dulu tak pernah kudengar umpatan dari bibirnya. Naya telah berubah, ibukota telah membuatnya berubah.

Sebatang rokok sengaja kusisakan setengah, terlihat menyedihkan di atas asbak. Kembali kuteguk teh yang mulai dingin. Aku kehilangan mood, aku kehilangan gairah. Aku menuju ruang tamu, memilih merebahkan tubuh di atas sofa.

Entah berapa jam aku tertidur di sofa, aku dikagetkan dengan suara pintu dibanting. Naya rupanya, aku bangun berusaha menyambut kedatanganya. Bukan salaman, pelukan atau ciuman yang aku terima tapi sebuah tamparan. Plak!

*bersambung*

Episode yang menyedihkan, harus berkahir dengan tamparan, bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan @ontohod melanjutkan :)


TAGS rantai cerita


-

Author

Follow Me